BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Benteng Vander Wijck merupakan benteng pertahanan yang terletak di
Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, benteng ini merupakan benteng terbesar di Jawa
bagian selatan pada masanya dan bentuknya yang persegi delapan konon hanya ada
dua di dunia. Benteng ini merupakan tempat yang bersejarah. Benteng ini
terdapat banyak pepohonan yang membuat
suasana benteng ini menjadi asri dan nyaman. Tidaklah sulit untuk mencapai
dikarenakan letaknya hanya 1 km dari jalan utama Gombong, Kebumen.
Dalam hal ini kami memilih wisata Benteng Vander Wijck untuk
menjadi referensi dalam memenuhi tugas semester 1 pembuatan Karya Tulis.
2.
Tujuan
Dalam pembuatan Karya Tulis ini, penulis mamiliki tujuan-tujuan sebagai
berikut:
·
Agar
siswa dapat mendeskripsikan sejarah Benteng Van Der Wijck.
·
Agar
siswa mengetahui keadaan bangunan Benteng Van Der Wijck.
·
Agar
siswa mengenal wisata-wisata yang ada di Bentang Van Der Wijck.
BAB II
WISATA BERSEJARAH BENTENG VEN DER WIJCK
A.
SEJARAH
Benteng Van Der Wijck awalnya adalah benteng
pertahanan Hindia-Belanda yang dibangun
sekitar abad ke 19. Terletak di Kota Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah,
kira-kira 300 m dari jalan raya Kebumen – Yogyakarta. Nama Van Der Wijck
sendiri berasal dari nama komandan pada saat itu yang karirnya cukup cemerlang
dalam membungkam perlawanan rakyat Aceh. Pada awal didirikan, benteng ini
diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) dari nama salah seorang Jenderal
Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah ditugaskan di daerah
Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu).
Kompleks
bangunan di sekitar Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya
digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Pada tahun 1827
Belanda mendapat pemberontakan dari
pasukan Diponegoro. Pemberontakan
itu ternyata sangat merepotkan pemerintah kolonial Belanda karena Diponegoro
didukung beberapa tokoh elit di Jawa bagian Selatan. Maka dari itu Belanda lalu
menerapkan taktik benteng stelsel yaitu daerah yang dikuasai segera dibangun
benteng. Tokoh yang memprakarsai pendirian benteng ini adalah gubernur jenderal
Van den Bosch. Tujuannya jelas sebagai tempat pertahanan (sekaligus
penyerangan) di daerah karesidenan Kedu Selatan. Pada masa itu, banyak benteng
yang dibangun dengan sistem kerja rodi (kerja paksa) karena ada aturan bahwa
penduduk harus membayar pajak dalam bentuk tenaga kerja. Tentu saja cara ini
membuat penduduk kita makin menderita apalagi sebelumnya gubernur jenderal
Deandels punya proyek serupa yaitu jalan raya pos Anyer – Penarukan dengan kerja .rodi.
Benteng ini
pernah jatuh ke tangan Jepang dan ketika Jepang berhasil ditundukkan Belanda,
maka keberadaan benteng ini dijadikan sekolah KNIL. Pada zaman Jepang, benteng ini
dimanfaatkan sebagai barak dan tempat latihan para pejuang PETA.
Benteng Van Der
Wijck ini jauh sebelum
menjadi tempat wisata merupakan bangunan kuno yang terlihat angker dan
menyeramkan. Dengan cat tembok yang kusam dan banyak yang terkelupas. Pada
akhirnya, seiring berkembangnya waktu, benteng itu direnovasi dan dijadikan
sebagai tempat wisata yang menarik guna menjadi tempat rekreasi serta menjaga
begunan peninggalan bersejarah.
Sebelum
tahun 1844
Sebelum
tahun 1844, Benteng Van der Wijck merupakan bangunan kantor Kongsi Dagang VOC
di Gombong. Bangunan tersebut sama sekali bukan berupa benteng. Besarnya
kekuatan Dipanegara yang berpusat di bagelen selatan (sekarang kabupaten
Kebumen) pada tahun 1825 – 1830, mengakibatkan Belanda mendatangkan bala
bantuan pasukan VOC dalam jumlah besar dari Batavia dan menempati kantor Kongsi
Dagang VOC di Gombong. Tempat tersebut kemudian dijadikan pertahanan militer
Belanda dalam melawan kekuatan Dipanegara di Bagelen Selatan hingga masa
penyerangan besar – besaran Belanda serta pembumihangusan pendopo kota raja
kabupaten Panjer yang menjadi pusat kekuatan terakhir (1832). Peristiwa
tersebut merubah status kantor Kongsi Dagang Gombong menjadi markas pertahanan
Belanda di Gombong. Meski demikian, bangunan tersebut belum diubah menjadi
benteng.
2.
Berdirinya Benteng Gombong/Fort Generaal
Cochius
Pada
tahun 1844 dibangunlah sebuah benteng Pertahanan Belanda di bekas kantor kongsi
dagang VOC di gombong. Bangunan ini bertujuan untuk pertahanan dalam rangka
persiapan perang melawan Kesultanan Yogyakarta. benteng ini dibangun selama 4
tahun (selesai pada tahun 1848: sayang angka tahun di atas gerbang utama
benteng yang dahulu disisi selatan telah hilang). Benteng ini kemudian diberi
nama Fort Cochius/ Fort Generaal Cochius, diambil dari nama Letnan Jenderal
Frans David Cochius, seorang komandan di Hindia Belanda yang memimpin pasukan
Belanda di Gombong pada masa perang Dipanegara 1825 – 1830. Benteng ini
dibangun oleh tentara corp. Zeni Belanda. Dari 1400 buruh yang bekerja dalam
proyek tersebut, 1200 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Bagelen, sedangkan
sisanya berasal dari Kabupaten Banyumas. Para buruh yang diawasi oleh pengawas
yang diambil dari daerah masing – masing. Para buruh dibayar 15 sen / hari,
sedangkan Pengawas mendapat 1 florin / hari. Bahan baku bangunan seperti kalsit
dan kayu berasal dari kabupaten sekitar Bagelen, sebagian besar dari Banyumas.
3.
Riwayat Van Der Wijck
Jhr.
Johan Cornelis van der Wijck lahir pada tanggal 11 Januari 1848 di
Buitenzorg (kawasan Istana dan Kebun Raya Bogor). Ia adalah adalah seorang
Letnan Jenderal dari Militer Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang menjabat
sebagai Gubernur Aceh. Van der Wijck dididik di Koninklijke Militaire Academie
dan pada tahun 1869 dan dipromosikan menjadi Letnan Dua. Pada tahun 1874 ia
dipromosikan menjadi Letnan Satu dan menjadi Komandan Departemen Militer III.
Van der Wijck menjadi Kapten pada tahun 1888, Mayor di tahun 1892 dan Letnan
Kolonel pada tahun 1894. Pada 1895 dan 1898 ia menjadi Komandan militer di
Palembang. Selanjutnya pada tahun 1880 ia menjadi Komandan Infanteri di Magelang.
Pada tahun 1898 Van der Wijck dipromosikan menjadi Kolonel dan pada tahun 1900
ia berpangkat Mayor Jenderal dan menjadi Komandan Utama dari Departemen Militer
II di Jawa. Kemudian ia menjadi Kepala Persenjataan Infanteri serta Kepala
Departemen II Kementerian Perang Belanda di Hindia Belanda.
Karena
kualitasnya, Pemerintah Belanda mengangkat Van der Wijck menjadi Kepala KNIL
pada tahun 1903. Pada tahun 1904 Van der Wijck menjadi Gubernur Sipil dan
Militer sementara di Aceh. Setahun kemudian ia diberhentikan dari tugasnya di
Aceh. Pada tahun 1905 Van der Wijck menjadi Letnan Jenderal, Komandan Tentara
dan Kepala Departemen Perang di Hindia Belanda. Pada tahun yang sama ia menjadi
anggota Komite Palang Merah Pusat Hindia Belanda. Atas permintaannya sendiri
Van der Wijck pensiun dari militer pada tahun 1907. Ia mendapatkan penghargaan
dari Pemerintah Belanda atas jasa – jasanya. Dia mendapat gelar Kesatria Singa
Belanda dan menerima Medali Aceh untuk prestasi militernya di Kraton selama
Perang Aceh. Dia juga mendapat Gelar Kehormatan atas aksi militernya di XII dan
XXVI Mukims di Aceh pada tahun 1879.
Van der
Wijck meninggal dunia pada tanggal 12 Oktober 1919 dan dimakamkan di Algemene
Begraafplaats (General Cemetery) di Den Haag.
Adapun
penggunaan bangunan bersejarah Benteng Van Der Wijck sebagai berikut:
a.
Benteng Pada Masa Pendudukan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, kompleks Benteng
Van Der Wijck dijadikan sebagai tempat untuk melatih anggota PETA ( Pembela
Tanah Air). Organisai ini merupakan Tentara Sukarela Indonesia bentukan Jepang
yang fungsinya sebagai pasukan pembantu untuk menghadapi Sekutu. Para anggota
Peta diasramakan di barak-barak militer yang terdapat di depan benteng,
sedangkan benteng itu sendiri dijadikan sebagai pusat penyimpanan bahan makanan
dan senjata-senjata Jepang. Jumlah anggota Peta saat itu kurang lebih 720
orang, terdiri dari dua bataliyon yaitu Bataliyon 1 (Daichi Daidan) dan
Bataliyon 3 (Daisan Daidan). Pada masa itu Jepang sengaja mengecat hitam
tulisan Belanda yang terdapat dibenteng dengan tujuan untuk menghilangkan
pengaruh Belanda, sehingga tulisan tersebut sulit untuk dibaca.
b.
Benteng Pada Masa Revolusi Kemerdekaan
Sebelum Belanda kembali ke kota Gombong,
kompleks benteng sempat dijadikan markas BKR (Badan Keamanan Rakyat). Kemudian
dijadikan pula tempat untuk menampung para staf dan anggota Inspektorat
Infantri Bandung serta Jawatan Kereta Api Bandung. Pada saat itu mereka hanya
memanfaatkan barak-barak militer di depan Benteng. Sedangkan benteng itu
sendiri dibiarkan kosong. Dengan adanya Agresi Militer Belanda tanggal 21 Juli
1947, Belanda berhasil meluaskan wilayah pendudukannya dan Gombong merupakan
daerah pendudukan terdepan Belanda di Jawa bagian Selatan, yang jatuh kepada
Belanda pada tanggal 27 Juli 1947. Selanjutnya Belanda menciptakan garis
demokrasi atau yang dikenal dengan sebutan Garis Demokrasi Van Mook. Untuk
wilayah Jawa bagian Selatan Belanda mengambil sungai Kemit sebagai batas
kekuasaan Belanda-Indonesia. Sebelah Barat adalah wilayah Belanda, sebelah Timur adalah wilayah
Republik Indonesia. Adapun kompleks Benteng Van Der Wijck oleh Belanda
dijadikan Markas pertahanan terdepan
untuk menghadapi kekuatan RI yang berada di sebelah Timur Sungai Kemit.
c.
Benteng Setelah Revolusi Kemerdekaan
Setelah Belanda meninggalkan Indonesia,
kompleks benteng dimanfaatkan oleh TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan
Darat). Pada umumnya masyarakat awam hanya mengetahui bahwa kompleks benteng
sebelum ditempati TNI AD yng bertugas di Secata, ditempati oleh Bataliyon 406.
Namun sebenarnya secara bergantian kompleks Benteng Van Der Wijck pernah
ditempati oleh beberapa bataliyon, diantaranya:
1)
Tahun 1950-1964
·
Bataliyon Saudarmo atau disebut juga Brigadir
10 dari Pekalonagan.
·
Bataliyon Borus yang merupakan bekas anggota
KNIL dari Madan.
·
Bataliyon 411 dari Yogyakarta.
·
Bataliyon 439
2)
Bataliyon 406 (1964-1965)
3)
Satu Kompi Senapan A. Bataliyon 406 dan satu
Kompi Bataliyon Zeni Tempur dari Magelang sekitar tahun 1975-1984.
B.
KEADAAN BENTENG VAN DER WIJCK
Benteng Van Der
Wijck merupakan salah satu peninggalan kolonial Belanda yang memiliki ciri
khusus yaitu seluruh bangunannya terbuat dari batu bata merah. Benteng ini
berbentuk segi delapan dengan luas mencapai 7.168 m2 dan tinggi 10 m, tebal
dinding 1,40 m, tebal lantai 1.10 m dan mempunyai dua lantai. Lantai pertama
mempunyai empat pintu garbang, 16 ruangan besar berukuran 18 x 6,5 m, 27
ruangan kecil dengan berbagai macam ukuran, 72 jendela, 63 pintu penghubung
antar ruangan maupun pintu keluar benteng, 8 anak tangga ke lantai dua dan
2 tangga darurat. Sedangkan lantai kedua
mempunyai 70 pintu penghubung, 84 jendela, 16 ruangan besar dengan ukuran 18 x
6,5 m, 25 ruangan kecil dan 4 anak tangga yang menghubungkan ke bagian atap
benteng. Atap benteng terbuat dari batu bata merah kuat dan kokoh yang dibuat menyerupai
bukit-bukit kecil sehingga sangat baik untuk pertahanan dan mengintai lawan
dari atas.
C.
WISATA
VAN DER WIJCK
Pada tahun 1856
benteng/Fort Cochius berubah menjadi Pupillenschool (Sekolah Taruna Militer)
untuk anak-anak Eropa yang lahir di Hindia Belanda (sekarang Indonesia).
Benteng/Fort Cochius berubah nama menjadi benteng/Fort Van der Wijck sebagai
penghormatan kepada Van der Wijck atas jasanya kepada pemerintah Belanda dalam
bidang kemiliteran di Hindia belanda.
Kompleks
benteng tersebut menjadi
Sekolah Calon Tamtama dan barak militer TNI AD. Ada pula bangunan yang
difungsikan sebagai hotel dan ruangan serba guna. Namun bukan hanya itu saja,
benteng ini juga menjadi obyek wisata andalan daerah Gombong dan sekitarnya.
Tak Cuma sekedar benteng tua, kini pihak pengelola juga melengkapi obyek wisata
ini dengan taman bermain anak seperti kincir putar, perahu angsa, mobil-mobilan
dll. Selain itu, pihak pengelola juga menyediakan kereta mini yang mengangkut
pengunjung dari pintu gerbang utama menuju benteng yang memang jaraknya agak
jauh. Ada pula patung dinosaurus raksasa yang pastinya membuat anak-anak
menjadi senang dan gembira. Tak ketinggalan warung-warung makan yang beragam
menambah semarak obyek wisata Benteng Van der Wijck.
Namun, yang
paling unik sebenarnya adalah adanya kereta mini persis di atas benteng. Dengan
kereta ini pengunjung bisa mengelilingi benteng dan menikmati pemandangan dari
atas benteng. Mungkin ini satu-satunya di Indonesia dimana pengunjung bisa
menaiki kereta di atas benteng. Dari atas benteng pengunjung bisa menyaksikan
prajurit yang tengah berlatih di lapangan tak jauh dari kompleks benteng. Cukup
membayar tiket Rp 5000 per orang, pengunjung bisa menaiki kereta mini selama
kira-kira 15 menit. Meskipun pemandangan sekitar tidak spektakuler.
Selain kereta
di atas benteng, pengunjung juga bisa melihat-lihat ruangan-ruangan dalam
benteng. Ruangan-ruangan itu dulunya berfungsi sebagai barak militer, pos jaga,
dan kantor. Ada pula ruangan yang khusus berisi foto-foto benteng jaman dulu,
sebelum dipugar, dan sesudah dipugar.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Setelah
melakukan penulisan Karya Tulis ini penulis dapat menarik kesimpulan sebagai
berikut:
1.
Siswa
dapat mendeskripsikan sejarah Benteng Van Der Wijck.
2.
Siswa
mengetahui keadaan bangunan Bentang Van Der Wijck.
3.
Siswa
dapat mengenal wasata-wisata yang ada di Benteng Van Der Wijck.
2.
Saran-saran
Penulis hanya
dapat memberikan sedikit saran-saran bagi rekan-rekan pembaca, yaitu :
1.
Hendaknya
kita para generasi muda senantiasa menjaga bangunan bersejarah agar tetap terjaga
kelestariannya.
2.
Hendaknya
kita para generasi muda senantiasa menghargai betapa besar perjuangan para
pahlawan yang terdahulu.
3.
Kita
sebagai generasi muda senantiasa mau mempelajari dan mengenal tempat-tempat
bersejarah.
4.
Sebagai
generasi muda kita harus memperkenalkan tempat bersejarah (Benteng Vander
Wijck) agar tetap hidup dan mudah dikenal.
DAFTAR PUSTAKA
Benteng Vander Wijck
Brosur Panduan
anangelnino.blogspot.com/2012/02/be...
www.jelajahunik.us/2011/12/wisata-s
id.wikipedia.org/wiki/Benteng_Van_d...
www.kaskus.co.id>Home>Forum>The Lounge
menambah pengetahuan sejarah
ReplyDeleterekreasi di benteng van der wijck
terima kasih tutorialnya